Langsung ke konten utama

[OOT] Satu Kursi dan Air Mata

Post ini hanya berisi curahan hati. Bagaimana perasaan, kekuatan mental, dan reaksi orang terdekat selama menempuh perjuangan mendapatkan kursi di PTN.
Memang menyimpang dari tujuan awal membuat blog jendelaadin.
Jika Anda tidak ingin membaca silahkan untuk keluar.
Jika ingin melanjutkan...


Selamat membaca

UN - STIS - SNMPTN

     Ujian Nasional atau lebih akrab disapa UN ini masih menjadi 'masalah' terbesar selama kelas 12 (sebelum era transisi yang menyebalkan itu). Menjelang UN saya seperti anak kelas 12 pada umumnya disibukkan dengan berbagai kegiatan mulai dari bimbel di luar sekolah, pemantapan di sekolah, ujian praktik, ujian sekolah, dan setumpuk kegiatan lainnya. Lelah? Jangan ditanya. Saya merelakan hari minggu disaat anak-anak lain bersantai di rumah saya dan teman lainnya membahas soal-soal tryout. Alhamdulillah saya dikelilingi teman-teman yang pintar pada bidangnya masing-masing.
     Sebelum UN, saya mendapat broadcast tentang pendaftaran PTK(Perguruan Tinggi Kedinasan) dan kebetulan STIS sudah membuka pendaftaran kala itu. Saya memberi tau orangtua dan mendaftar. Karena tes STIS ini berdekatan setelah UN maka saya lebih memfokuskan diri untuk UN dulu.
     Pendaftaran SNMPTN. Menjelang UN juga kami(kelas 12) disibukkan dengan mengisi data nilai dan borang pendaftaran SNMPTN. Saya memutuskan memilih UPI atau Universitas Pendidikan Indonesia sebagai tujuan saya. Dengan modal doa dan nilai rapor saya memilih jurusan Pendidikan Matematika dan Matematika murni.
     H-3 Ujian Nasional. Saya sendiri tidak tau apa motivasi teman-teman yang menurut saya "pintar" memilih jalan haram untuk melalui UN. Saya merasa salah karena saya membiarkan mereka tanpa mencegah ataupun melarangnya. Saya merasa kesal sekaligus bersyukur karena keadilan Allah tidak bisa berbohong dan tidak bisa dibohongi. Jujur, saat melalui tiga hari itu saya merasa takut dan menerka-nerka apakah jalan yang saya pilih untuk menjadi 'minoritas' bersama 4 kawan saya ini adalah kemenangan atau kekalahan yang akan ditertawakan kedustaan. Kami(saya dan teman saya) hanya berdoa dan saling menguatkan.
     Habis UN terbitlah tes STIS. Saya mendapat lokasi tes di Universitas Dharma Persada. Datang kepagian dan melewati tes pertama dengan deg-degan. Sulit. Soalnya sulit untuk ukuran saya yang minus sekali dalam bahasa inggris.
Hasil UN, pengumuman STIS dan pengumuman SNMPTN. Satu per satu pengumuman datang. Pagi itu saya berangkat ke sekolah untuk keperluan meminta surat keterangan UN. Ternyata hari itu hasil nilai UN sudah bisa dilihat. Saya sangat penuh harap. Setelah melihat nilai tersebut saya sangat bersyukur. Kami menang. Kebenaran menang. Meski tak sepenuhnya menang setidaknya nilai saya masih lebih baik dari mereka yang memilih jalan 'salah dan mayoritas' itu. Alhamdulillah yaAllah. Beberapa hari kemudian pengumuman STIS keluar. Saya gagal. Ini adalah awal pembuka kegagalan-kegagalan saya. Saya tidak bersedih karena masih banyak jalan lain. Hingga tiba saatnya, 9 mei pun datang. Saya yakin semua anak kelas 12 sangat berharap banyak pada hari itu. Grup kelas mulai ricuh chat saling menguatkan tumpah ruah hingga tak terbendung. Saya gagal (lagi). Saya biasa saja saat melihat kegagalan kedua datang tanpa permohonan maaf. Namun, saya melihat sorot kekecewaan dibalik hitam bola mata orang tua saya. Meski mereka tetap bersikap sewajarnya dan menguatkan saya.

SM-Prestasi UNY - SBMPTN - SM-UNS
     Memang begitu urutannya, siapa yang gagal SNMPTN memiliki pilihan untuk ikut atau tidak ikut SBMPTN. The real war is coming. Saya seperti tidak trauma dengan kegagalan di jurusan yang sama, saya memilih UNJ Pendidikan Matematika. Saya melewati masa-masa perjuangan itu dengan tidak maksimal, saya tau itu. Saya tidak sefokus saat menjelang UN. Saya datang dan kadang bolos intensif SBMPTN di suatu lembaga. Kehilangan temang seper-les-an juga mempengaruhi semangat saya, satu teman lolos SNMPTN dan satu lagi mencoba lari dari kenyataan dengan pindah lembaga bimbingan. Hari-hari berat saya lalui. Saya tidak ingin membuang satu kesempatan pun agar tidak ada penyesalan dikemudian hari. Sebelum SBMPTN datang saya mencoba keberuntungan lewat nilai rapor lagi, SM-Prestasi UNY. Dengan memilih jurusan yang sama seperti SNMPTN, saya hanya bisa pasrah dan berdoa.
     H-1 SBMPTN keluarga saya dirundung duka, mbah (ibu dari bapak) meninggal dunia. Hari itu juga mamah dan bapak saya berangkat ke Purwokerto. Saya mendapat berita tersebut saat sedang les hari terakhir. Dan memutuskan untuk pulang kerumah lebih awal. Mau tidak mau, suka tidak suka, hari itu datang juga. Hari di mana perjuangan akan diukur dengan juang-meter lewat soal-soal. Sesi pertama saya akhiri dengan pusing yang melanda kepala, soal macam apa ini yaAllah. Ngga kuat Adinda. Waktu istirahat saya gunakan untuk makan dan mengobrol. Ada kejanggalan saat itu, bel harusnya sudah berbunyi 30menit yang lalu tetapi tidak kunjung berbunyi hingga 1jam berlalu. Tidak lama setelah itu ada pemberitahuan bahwa keterlambatan kedatangan soal menjadi perkara molornya waktu ujian. Saya terus menunggu hingga pukul 13:30 baru bisa memulai sesi kedua. Kepercayaan diri saya muncul saat sesi kedua ini karena saya menjawab lebih dari setengah soal-soal yang ada.
     Pengumuman SM-Prestasi UNY pun tiba. Saya harus berlapang dada, kegagalan ketiga. Saya masih bisa tertawa dan bersikap biasa saja. “Masih ada SBM”, ujar saya menguatkan diri sendiri.
Sebelum pengumuman SBMPTN, UNS membuka jalur Seleksi Masuk dengan mempertimbangkan nilai SBMPTN. Saya dan teman saya pun memutuskan untuk mendaftar. Dengan memilih jurusan sama (lagi). Singkat cerita pengumuman SBMPTN pun datang. Saya membuka pengumuman itu dengan pasrah. Lagi-lagi saya gagal. Kegagalan keempat. Saya berserah diri seutuhnya kepadaMu yaAllah.

STTD
     Waktu itu setelah mengikuti tes STIS bapak saya memberitau tentang kedinasan lain yang masih buka pendaftaran. STTD. Asing sekali di telinga saya nama itu. Saya mencari tau lewat internet dan menemukan STTD itu adalah kedinasan di bawah naungan kementerian perhubungan. Bapak saya meminta saya untuk mendaftar. Saya berangkat ke Bekasi dengan bus bersama bapak. Awal saya ke sana saya sangat tertarik karena saya teringat STIS dan STAN. Saat itu yang saya tau tentang sekolah kedinasan hanya gratis dan mendapat uang saku. Pendek sekali pikiran saya. Memang dari awal ada yang lain dari pendaftaran itu karena ada kata “Taruna”. H-1 sebelum tes saya menginap di rumah saudara agar tidak terlambat datang. Banyak kejadian di hari tes tahap 1 itu mulai dari seleting rok tiba-tiba rusak sampai makan ketoprak di pos satpam. Beberapa hari kemudian pengumuman itu datang. Saya lolos tahap 1. Entah saya harus senang atau sedih. Setelah mencari tau seleksi selanjutnya adalah wawancara, psikotes, kesehatan, dan tes kesamaptaan (fisik) saya ingin tidak melanjutkannya. Namun, keinginan tersebut bertentangan dengan keinginan orang tua. Saya tau betul seperti apa diri saya sendiri, saya tidak akan lolos tes kesamaptaan. Posisi saya sebagai anak memaksa saya untuk mengikuti keinginan orang tua dalam konteks 'telah mengupayakan dan meminta hak untuk berpendapat'. Saya ingin memberi pelajaran kepada orang tua saya, agar mereka bisa melihat seperti apa sebenarnya anak mereka ini. Sekuat apa fisik anaknya. Saya membicarakan soal kebebasan dalam batasan. Saya menginginkan kebebasan setelah lulus SMA dengan batasan-batasan norma dan agama. Setelah tidak menemukan titik cerah akan melanjutkan atau tidak. Akhirnya, anak harus mengalah. Iya. Saya datang ke STTD lagi. Terlambat 10menit, dengan baju dikeluarkan, dan lari-larian. Sesampainya di auditorium, kami diberikan penjelasan tentang tes-tes selanjutnya. Pukul 9 kami disuruh untuk menunggu pengumuman. Setelah 3 jam menunggu, akhirnya pengumuman datang juga. Prosedur tes diubah menjadi 4 tahap. Singkat cerita akhirnya saya mengikuti lagi tes tahap 2 psikotes. Di tes tersebut saya melihat banyak kecurangan. Banyak peserta yang tetap melanjutkan mengerjakan tugas walaupun waktunya sudah selesai. Walaupun saya terpaksa ikut, saya tetap mengerjakan soal-soal dengan semaksimal mungkin. Waktu itu pengumuman tes tahap 2 diumumkan lewat web sebelum lebaran, sebenarnya saya sudah tau saya lolos. Namun, setiap orang tua saya bertanya saya menjawab dengan diam. Sampai akhirnya bapak saya mendapat telpon dari temannya yang anaknya juga mengikuti tes yang sama bahwa saya lolos. Saya diam saja. Tidak mengelak dan tidak juga meng-iya-kan. Kediaman saya berlangsung cukup lama. 6 hari. Selama itu hanya berbicara seperlunya saja ke orang tua saya. Sebelumnya saya sudah membicarakannya kepada mamah saya kalau saya tidak ingin asrama dan terjebak dalam rutinitas lagi. Saya ingin bebas dan tau batasan. Saya ingin itu dan beberapa hal yang tidak bisa saya sebutkan. Saya ingat, waktu itu saya sedang nonton tv tengah malam saya meminta dibelikan pecel ayam, lalu dibelikan oleh bapak saya. Malam itu juga bapak saya menanyakan apakah saya mau melanjutkan atau tidak. Saya menjawab dengan tegas 'tidak'. Saya melihat sorot mata kecewa itu lagi. Saya tidak mau melihatnya lagi.

SPMB-UIN - UTM-IPB - PENGUMUMAN UNS
     Setelah SBMPTN, saya mendaftar SPMB UIN Syarifhidayatullah Jakarta bersama teman saya. Kemudian teman saya yang lain menawarkan untuk mengikuti bimtes (bimbingan tes) sebelum SPMB. Saya dan beberapa teman mengikuti bimtes itu. Hari pertama bimtes saya kabur setelah sesi bahasa arab (jangan ditiru ya). Hari kedua saya mengikuti acaranya hingga selesai. Sampailah dihari ketiga yaitu tryout. Karena hari ketiga ini bertepatan dengan hari terakhir intensif SBMPTN di lembaga bimbel yang saya ikuti akhirnya saya memilih untuk masuk intensif dan tidak mengikuti tryout bimtes. Beberapa hari sebelum SPMB teman saya ke rumah untuk mengerjakan soal bersama. Kemudian hari tes itu pun tiba. Pada hari sebelum tes saya tidak survei jadi saya menunggu teman saya di depan fakultas ekonomi dan bisnis. Saya diantar ke ruangan saya, lalu saya mengambil buku BTS dulu ke teman di lantai 7. Setelah mendekati bel saya bergegas turun ke lantai 4 lagi, dan zonk saya lupa yang mana ruangan saya. Setelah muter-muter fst-feb berkali-kali akhirnya saya masuk ruangan dan memulai tes. Pengetahuan agama, bahasa indonesia, bahasa inggris, kemudian dilanjutkan dengan tpa. Hari pertama saya cukup lancar. Pulang tes hari pertama, saya pulang menggunakan angkutan umum dan mabok. Perjalanan Ciputat - Viktor selama 1 jam lebih dengan angkot yang berhenti tiba tiba terus. Malam itu saya tidak belajar. Besoknya saya mengikuti tes dengan otak seadanya. Matematika fisika biologi kimia dirangkum menjadi satu buku soal. Jujur saya kecewa karena soal yang keluar berbanding terbalik dengan soal-soal yang dibahas saat bimtes. Sulitttttttt. Saya cukup down saat mendapat info bahwa 12ribu orang yang mengikuti tes ini. Terlebih ketika mencocokkan jawaban dengan teman jawaban saya banyak yang berbeda.
     Sebulan setelah SPMB UIN, saya mencoba tes lain lagi. Ujian Talenta Masuk IPB atau lebih dikenal dengan UTMI. Saya memilih jurusan Statistika dan Teknik Sipil. Ini tes termahal yang pernah saya ikuti, pendaftaran 500ribu rupiah. Kuota penerimaan pun sangat kecil. Awalnya saya cukup galau karena UTMI berbarengan dengan Penmaru UPNVJ. Setelah melalui pemikiran dan mempertimbangkan banyak hal akhirnya saya memilih mengikuti UTMI. Saya berangkat ke Bogor dengan teman saya. Kami menginap di Masjid Al Huriyyah yang terletak tidak jauh dari gedung tes saya. Pengalaman menginap di masjid ini tak akan saya lupakan, selain mudah beribadah saya pun mendapat teman baru. Termasuk makan kentang yang se-alot cireng.  Hari tes itu pun tiba. Sesi pertama Saintek. Soal-soal yang keluar sejenis dengan SBMPTN. Pusing lagi-lagi melanda saya. Saya menjawab seadanya. Selanjutnya TKPA dan uji talenta. Soal uji talenta memang mudah karena sesuai kepribadian masing-masing. 60menit 140soal. Menghitamkan bulatannya membuat saya mabok dan membuat sedikit kerusuhan karena ktp saya jatuh entah kemana. Kemudian orang yang di sebelah saya membantu mengambil ktp saya, tak sengaja saya melihat ia baru mengerjakan nomor 90 sedangkan waktu tinggal 1 menit terakhir. Saya jadi merasa bersalah karena merepotkan.
     Jadwal pengumuman SBMPTN, UTM IPB, dan SM UNS itu berurutan dan berjarak dekat. Gagal SBMPTN saya masih biasa saya dan berharap banyak pada UTMI dan SM UNS. Lalu pengumuman UTM lebih cepat sehari dari jadwal yang ditentukan (yang baru saya tau bahwa di web tanggalnya typo). Saya gagal lagi. Kegagalan kelima. Saya bertanya pada diri saya sendiri “apakah saya masih kuat dan akan tetap berjuang?” “mengapa saya tidak menangis?”. Menjelang pengumuman SM UNS pertanyaan kedua terjawabkan. Saya menangis, bahkan berjam-jam. Itu malam paling terpuruk saya. Saya bodoh. Saya menyalahkan diri saya sendiri. Saya selama ini terlalu santai. Terlalu menganggap mudah sesuatu. Saya menangis dan mengutuk takdir. Saya tidak berhak sebenarkan mengutuk takdir sedangkan saya tau bahwa takdir bisa di ubah. Mata saya memerah dan bengkak. Tenggorokkan saya sakit tetapi hati saya jauh lebih sakit. Saya tau saya tidak akan lolos SM UNS. Jadi, saya menangis sebelum tau kebenarannya. Karena saya mengerti sesakit apapun kebenaran akan tetap benar. Besok paginya saya terbangun dengan maya bengkak dan muka kusut. Ini bahkan lebih sakit dari patah hati. Apa ini patah hati yang sebenarnya? Saya membuka pengumuman dan benar saja. Kegagalan keenam. Semakin sakit lagi karena pagi itu saya menangis. Mengutuk diri sendiri. Lagi.

KEBANGKITAN
     Setelah melakukan evaluasi terhadap kegagalan-kegagalan selama ini. Saya berhenti bersembunyi lagi. Saya meminta uang untuk mendaftar Penmaba UNJ dan SPMB Unsoed. Saya harus berjuang lebih keras. Dari waktu mendaftar hingga hari H saya terus belajar dan berdoa. Tidak ada yang mengalahkan kekuatan doa (yang disertai ikhtiar tentunya).
     Saya berangkat ke UNJ kampus B bersama bapak saya setelah solat subuh dan sampai sana kepagian. Pukul 06:17 kami sampai. Saya mencari ruangan dan memutuskan untuk menunggu di luar gedung sampai bel tiba. Di sana saya mengobrol dengan beberapa orangtua juga mahasiswa yang sedang istirahat olahraga (di kampus B ada gedung FIK). Waktu tes pun tiba. Di soal tidak tertera cara penilaian. Saya pun bertanya bagaimana sistem penilaian tersebut. Namun, tidak ada jawaban pasti yang saya dapatkan. Setelah memantapkan hati saya memilih untuk menjawab semua soal dan berusaha semaksimal mungkin. Kalau ada yang bilang soal Penmaba UNJ mudah, you are wrong. Soal-soal sejenis dengan SBMPTN meski dibawah standarnya sedikit. TKPAnya memang lebih mudah terlebih jika matematika dasarnya dibandingkan soal SBM.
     Di hari yang sama dengan Penmaba UNJ yaitu 1 Agustus akan diumumkan juga kelulusan SPMB UIN. Sore itu saya sedang di rumah teman saya. Saya melihat di grup teman saya sudah mengirimkan screencapture kelulusannya. Saya pun memutuskan untuk pulang dan membuka pengumuman. Setelah memasukkan nomor peserta dan tanggal lahir, layarpun berubah menjadi warna biru. Di sana tertulis kata “Selamat”. Saya bengong. Saya tidak percaya karena tampilan warnanya yang berbeda dengan foto yang dikirimkan teman. Akhirnya saya coba lagi dan keluar hasil yang sama. Saya memberi tau mamah saya. Saya meneteskan air mata. Setelah meneteskan puluhan air mata untuk kegagalan kali ini saya meneteskannya untuk keberhasilan. Air mata dengan perasaan yang berbeda. Saya dinyatakan diterima pada pilihan pertama. Pendidikan matematika. Fakultas ilmu tarbiyah dan keguruan. Terimakasih yaAllah. Saya tidak ingin bertanya apakah teman saya lolos atau tidak karena saya tau rasa sakitnya di tanya. Saya sangat mengerti.
     Besoknya saya tetap harus mengikuti tes SPMB Unsoed. Saya mengerjakan tes dengan hati gembira. Meskipun begitu saya telah berjanji pada diri saya sendiri untuk tetap melakukan yang terbaik.
     Tanggal 10 Agustus pun datang. Pengumuman UNJ. Saya memasukkan nomor peserta dan mendapatkan kata selamat lagi. Alhamdulillah yaAllah. D3 Teknik Sipil. Berbeda beberapa hari tanggal 12 Agustus pengumuman Unsoed sudah bisa di akses. Setelah memasukan nomor peserta dan tanggal lahir saya melihat kata selamat lagi. D3 Perencanaan Sumber Daya Lahan.
     Saya sudah memantapkan hati untuk memilih UIN Syarif Hidayatullah sebagai tempat saya menimba ilmu selama beberapa tahun ke depan.

ORANG SEKITAR
     Saya sudah putus asa saat melewati kegagalan akhir. Saya sudah mengisi formulir online suatu PTS saat itu. Orang tua saya mendukung apapun jalan yang saya pilih meski saya tau bukan itu yang mereka inginkan. Saya tidak ingin kalah. Saya bangkit. Bukan untuk diri saya sendiri.
     Orang-orang terdekat mungkin memang selalu menguatkan saya. Mereka menghibur. Saya dan teman saya seperti ingin lari dari kenyataan. Hampir setiap hari kami main ke rumah teman. Menonton video dan bernyanyi. Sebatas itu. Sebelum malam berakhir dengan air mata.
     Lebaran masih menjadi hari favorit saya. Meski saat itu saya belum ada kejelasan mengenai kuliah di mana dan sebagainya. Saya mengerti akan mendapatkan pertanyaan itu. Namun, yang baru saya tau adalah sesakit itu menjawab pertanyaan. Semua orang tau, saya sangat santai menjawab pertanyaan apapun. Pertanyaan sederhana seperti “Jadi lanjut di mana, Din?” “Sekarang kuliah di mana?” “Si ini kuliah di sini lho, Din”. Ternyata mendengarnya saya membuat saya patah hati, bahkan berkeping-keping. Hari selanjutnya saya seperti kehilangan semangat karena pertanyaan-pertanyaan yang menyakiti hati itu terlontar berkali-kali. Saya hanya mengurung diri di rumah. Meratapi nasib dan makan ketupat 3 jam sekali. Mungkin saya stres berat. Saya stres karena pertanyaan itu.
     Saya ingin menyarankan melalui tulisan ini: tolong berhenti bertanya kami kuliah di mana karena kami tidak memiliki jawabannya. Jika kami sudah memiliki kepastian, tanpa kalian bertanya pun kami sudah beri tau.
     Ternyata memang tidak mudah mendapatkan satu kursi di PTN. Harus ada air mata yang membayarnya. Harus ada keringat untuk menukarnya. Mungkin, harus ada pula gelisah yang menyelimuti perjalanannya.

Ttd.
Adin
Pejuang 2015
Orang yang merasakan kegagalan enam kali
Orang yang dipilih Allah untuk bersabar dan hampir gagal melewatinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata yang Tidak Berkata

setiap kata memiliki makna kecuali kita bising di kepalamu dan gemuruh detak jantungku menggebu tanpa malu tetapi tembok itu masih memenangkan segala perang tentang keakuan dan diam masih menjadi kalimat panjang menggantikan setiap pelukan-pelukan batu dalam jiwamu tetap satu akhirnya yang ramai hanya bisu berkata tanpa kata-kata

Katamu–palsu

Katamu, Terang itu bila kita berhasil melewati gelap Katamu, Mudah itu bila kita melompati cobaan bersama Katamu, Tawa itu hanya untuk mereka yang sering menangis Katamu, Untuk mencapai senja yang indah kita hanya perlu menunggu mentari tenggelam Sayang, Tempat ini terlalu gelap, Aku yang buta pun bisa merasakan hitam pekatnya Aku tak melihatmu di gelap ini Apa gelap ini termasuk bentuk cobaan? Jika iya, aku tak bisa melompat Aku lumpuh Jangankan melompat Bergerakpun aku tak mampu Kau bilang menangis? Menangis? Tak usah kau bicara tangis pada orang tunawicara Tak usah mengatakan tentang bualan indah Tentang tawa Menangis saja sulit Bagaimana ku bisa tertawa? Bodoh! Kau mengajarkanku tentang menunggu? Tahu apa kau tentang senja yang indah Tahu apa kau tentang arti menunggu Untuk tertawa Untuk membuat hidup lebih mudah Untuk mencapai terang Katamu, bila "kita" Tahu apa kau tentang kita? Kita–mungkin maksudmu adalah aku dah diriku Terimakasih, ...