Langsung ke konten utama

Dua Merpati Ayah Telah Terbang

Musim terus berganti. Tak ada yang berubah dengan keadaan daerah pemukiman kumuh pinggiran ibukota ini. Rumah-rumah susun berbaris rapih mengikuti perkembangan zaman. Panas. Bukan masalah besar bagi mereka yang memang kurang dalam finansial. Rumah kumuh bantaran kali ataupun rel kereta masih ada. Masih tersenyum kecut menghadapi kehidupan yang kian hari makin mengeras. Banyak yang berpindah-pindah, tetap saja ibukota selalu ramai. Bising. Bau. Tak alami. Tapi lihatlah kampung ini, suara gemuruh pasir-pasir yang baru turun dari truk, anak-anak tertawa dan menangis, serta ibu-ibu yang sibuk meratapi atau bahkan menyombongkan hidupnya.

Seekor burung merpati terbang di atas atap-atap padat pemukiman. Dibawahnya, bocah-bocah kecil berlarian mengikuti arah sang merpati. Anto, salah satu dari bocah-bocah itu. Bocah-bocah berlarian tertawa dan saling mengejek, berebut untuk mendapatkan merpati itu, kecuali Anto. Anto tidak sedang bermain ia sedang dalam sebuah bahaya. Keringatnya sudah menetes membasahi kaos putih yang sudah menghitam. Sesekali ia mengelap ingus dan keringat yang meleleh dibagian dahinya. Tanpa mempedulikan bajunya yang kotor penuh lumpur serta baunya yang tak tertahankan, ia tetap fokus pada merpati itu. Masa bodoh dengan tatapan jijik mengejek ibu-ibu di tukang sayur yang baru saja ia lewati. Anto tak bisa berpikir ataupun membaca pikiran mereka. Yang ia tahu hanya setelah ini, ia akan berakhir di mana.

Ayahnya pasti akan marah besar jika mengetahui burung merpati kesayangannya terbang dari sangkar yang tanpa sengaja ia jatuhkan keselokan bersama dengan tubuhnya, hanya itu pikiran Anto. Sederhana, begitulah pikiran anak berumur 10tahun. Belum lagi bajunya yang semula putih bersih kini kotor tak berupa.

Anto terlahir di keluarga yang harmonis, sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya ketika ia berumur lima tahun. Sudah lima tahun Anto tidak mengenal kasih sayang seorang ibu. Ayahnya berubah menjadi mudah emosi dan seringkali ia berlaku kasar pada Anto maupun Angga, kakak kandung Anto. Angga juga berubah menjadi siswa SMA yang brutal, namun di sisi lain Angga sangat menyayangi Anto. Angga paham sekali bahwa kenakalan ia selama ini hanya untuk menarik perhatian ayahnya. Saat libur ayahnya hanya mengurus merpati-merpati peliharaannya. Sedang Anto masih terlalu dini untuk hidup tanpa kasih sayang.

Memang malang nasib Anto, burung yang dikejarnya menghilang saat gelap mulai menghiasi pemukiman dekat rumahnya itu. Ia pulang dengan tangan kosong serta kotor. Ia takut bukan kepalang, membayangkan wajah sangar ayahnya dengan kumis yang dibiarkan memanjang dan lebat. Anto memperlambat langkahnya menuju rumah, sedang gerimis mulai berubah menjadi hujan. Kuyup, hujan semakin mengerikan, tubuh kecilnya bersembunyi di balik rimbun pohon rambutan tak jauh dari rumahnya.

“Ngapain Nto disitu?”, tanya Desi tetangga pemilik pohon tempat Anto berdiri menghindari deras hujan. Anto kaget bukan kepalang, pasalnya ia sedang bengong memeluk tubuhnya sendiri sambil membayangkan hukuman yang pantas ia dapatkan.Desi adalah pemilik rumah yang tidak jauh dari rumah Anto. Desi juga adalah adik kelas Angga.

“Eh kak Desi, nunggu hujannya berhenti kak”, jawab Anto sekenanya.

“Pulang Nto nanti dicariin loh sama Mas Angga” nasihat Desi sambil berlalu masuk ke dalam rumahnya.

Anto tetap berdiri, diam, dan mulai mengigil. Hujan sudah mulai mereda, tetapi ketakutan masih mengguyur deras membasahi pikirinnya. Anto masih setia memeluk badannya di bawah pohon rambutan.

Hujan sudah berhenti, langit gelap berubah menjadi sore tanpa jingga. Sisa-sisa air hujan masih menetes dari daun-daun pohon. Suara adzan magrib mulai menggema dari toa-toa masjid. Nyamuk-nyamuk mulai menggigitinya. Clekit. Clekit.

“Nto, hujannya kan udah berhenti. Apa ngga sebaiknyakamu pulang aja? Nanti Mas Angga marah loh, apalagi Ayahmu. Udah malem juga” saran Desi yang baru saja pulang dari masjid.

“Anto takut. Ayah pasti marahin Anto. Anto takut sama gesper Ayah”

“Ayo Kak Desi antar ke rumah. Emangnya kamu habis ngapain kok bisa kotor gitu bajunya?”

Setelah menceritakan kejadian tadi sore pada Kak Desi, Anto merasa lebih tenang. Desi banyak memberi saran juga nasihat-nasihat ringan tentang perlakuan kasar Ayah Anto terhadapnya.
 ****

Tok. Tok. Tok.
“Assalammualaikum” sapa Desi dengan tangan kanan yang sibuk mengetuk pintu rumah dengan cat kuning tersebut.

“Eh Desi, ada apa?” Angga muncul dari balik pintu dengan baju bola klub kesayangannya.

“Ini Mas, Anto ngga berani pulang, ia kehujanan habis main bajunya kotor jadi ia takut untuk pulang”

“Oh, terima kasih ya Des. Anto ayo masuk”

Sepeninggalan Desi, Anto langsung bersih-bersih. Beruntung Ayahnya sedang pergi keluar untuk membeli makanan.

“Kamu habis ngapain kok kotor banget bajumu, Nto?”

“Ngga apa-apa kok, Mas.”

“Sudah, kamu ceritain saja sama Mas.”

“Mas jangan bilang-bilang Ayah ya. Burung merpati kesayangan Ayah terbang. Tadi pas aku main, sangkarnya jatuh terus burungnya terbang. Aku takut, Mas.”

“Ngga usah takut. Sana mandi, kamu kotor banget”
                                                                              
  ****

Suara motor Ayah Anto menggema dari luar rumah. Nyali Anto semakin menciut, ia meringkuk memeluk guling di ranjangnya.

“Makan, Nto”

“Nanti Mas”, Anto memilih untuk mengurung diri di kamar berharap Ayah dan Mas Angga menganggapnya sudah terlelap.
                                                                         
  ****

Anto terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya dan melihat ke arah jam dinding. Pukul 2 dini hari. Samar-samar Anto mendengarsuara pertengkaran Angga dan Ayahnya.

“Kenapa Ayah selalu mementingkan hobi Ayah daripada aku dan Anto?!”

“Siapa yang ngajarin kamu membentak orangtua?”

“Memangnya Ayah udah mengajarkan aku sopan santun?”

Dari sela pintu Anto melihat warna mengkilap gesper Ayahnya. Anto selalu takut melihat benda itu.

“Ayah jangan pukul Mas Angga lagi, Mas Angga ngga salah”

“Diam kamu!”

Tes. Tes. Tes.

Darah terlanjur menetes dari leher Angga yang terkena ujung tajam gesper Ayahnya. Angga memeluk Anto. Anto mulai menangis terisak. Ayahnya pergi entah kemana.

“Mas Angga ngga apa-apa?”

“Ngga apa-apa, kamu tidur aja. Besok sekolah.”

****

Sepulang sekolah Anto melihat Ayahnya dan Desi sedang berbincang di depan rumah mereka. Anto memilih untuk tidak langsung ke rumah, melainkan berdiam diri menunggu Ayahnya selesai. Hari ini Angga tidak menjemputnya. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Ayahnya selesai juga. Anto kembali ke rumah dengan takut-takut.

“Nto, kamu lihat burung merpati Ayah?”

“Ng... Ngga lihat Yah” ucap Anto terbata-bata.

“Belajar berbohong di mana kamu? Sudah memalukan Ayah di depan orang lain! Masih kecil sudah jadi keparat kamu!”, hardik Ayahnya seraya menampar Anto. Sebelum tangan Ayahnya sampai di pipi mungil Anto, Desi yang mendengar ribut-ribut itu menangkap tangannya. Di tariknya Anto menjauhi rumahnya. Isakkan bocah itu semakin keras terdengar.

Anto sementara tinggal di rumah Desi sampai suasana sudah membaik. Anto tertidur di sofa ruang tamu. Waktu telah menunjukkan pukul lima sore tapi Anto belum bangun juga. Desi mengecek suhu tubuh Anto, 38 derajat celcius. Ia demam. Desi mengompres Anto dengan air hangat dan membuatkan bubur untuknya.

****

Angga yang sedang futsal memutuskan pulang setelah menerima pesan dari Desi bahwa Anto sakit. Sesampainya di rumah Desi, Angga menggendong Anto dan membawanya ke klinik terdekat. Desi telah menceritakan kronologis kejadian tadi siang kepada Angga seluruhnya. Angga dan Anto kembali di rumah namun Ayahnya tak ada. Setelah Anto tidur, Angga memutuskan untuk membuat perhitungan kepada Ayahnya. Tak beberapa lama, Ayahnya pun pulang.

“Ngapain Ayah pulang? Kalau Ayah udah ngga bisa mendidik kami lebih baik Ayah pergi saja!”

“Dasar anak kurang ajar! Memangnya siapa yang beri makan kalian? Desi? Memangnya kalian bisa apa tanpa Ayah?!”

“Kalau Ayah ngga mau pergi lebih baik aku sama Anto yang pergi dari rumah ini. Aku bisa menjaga Anto!” Teriak Angga yang kemudian menyiapkan tas dan menggendong Anto pergi menggunakan motornya meninggalkan rumah.

****
“Mas, kita mau kemana?”

“Mulai sekarang kita hidup berdua. Mas Angga yang akan menanggung hidupmu. Lupakan kejadian-kejadian lima tahun terakhir ini. Kita ngga boleh seperti Ayah. Kita harus buat Ibu bangga di sana.”

Angga dan Anto akan melewati kerasnya kehidupan ibukota berdua. Melupakan bayang-bayang kelam hidupnya. Sesekali menanyakan kabar Ayah lewat Desi yang setia menceritakan apapun tentang kampung mereka.





Ditulis untuk keperluan tugas sekolah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata yang Tidak Berkata

setiap kata memiliki makna kecuali kita bising di kepalamu dan gemuruh detak jantungku menggebu tanpa malu tetapi tembok itu masih memenangkan segala perang tentang keakuan dan diam masih menjadi kalimat panjang menggantikan setiap pelukan-pelukan batu dalam jiwamu tetap satu akhirnya yang ramai hanya bisu berkata tanpa kata-kata

Katamu–palsu

Katamu, Terang itu bila kita berhasil melewati gelap Katamu, Mudah itu bila kita melompati cobaan bersama Katamu, Tawa itu hanya untuk mereka yang sering menangis Katamu, Untuk mencapai senja yang indah kita hanya perlu menunggu mentari tenggelam Sayang, Tempat ini terlalu gelap, Aku yang buta pun bisa merasakan hitam pekatnya Aku tak melihatmu di gelap ini Apa gelap ini termasuk bentuk cobaan? Jika iya, aku tak bisa melompat Aku lumpuh Jangankan melompat Bergerakpun aku tak mampu Kau bilang menangis? Menangis? Tak usah kau bicara tangis pada orang tunawicara Tak usah mengatakan tentang bualan indah Tentang tawa Menangis saja sulit Bagaimana ku bisa tertawa? Bodoh! Kau mengajarkanku tentang menunggu? Tahu apa kau tentang senja yang indah Tahu apa kau tentang arti menunggu Untuk tertawa Untuk membuat hidup lebih mudah Untuk mencapai terang Katamu, bila "kita" Tahu apa kau tentang kita? Kita–mungkin maksudmu adalah aku dah diriku Terimakasih, ...