Musim terus berganti. Tak ada yang berubah dengan keadaan daerah pemukiman kumuh pinggiran ibukota ini. Rumah-rumah susun berbaris rapih mengikuti perkembangan zaman. Panas. Bukan masalah besar bagi mereka yang memang kurang dalam finansial. Rumah kumuh bantaran kali ataupun rel kereta masih ada. Masih tersenyum kecut menghadapi kehidupan yang kian hari makin mengeras. Banyak yang berpindah-pindah, tetap saja ibukota selalu ramai. Bising. Bau. Tak alami. Tapi lihatlah kampung ini, suara gemuruh pasir-pasir yang baru turun dari truk, anak-anak tertawa dan menangis, serta ibu-ibu yang sibuk meratapi atau bahkan menyombongkan hidupnya. Seekor burung merpati terbang di atas atap-atap padat pemukiman. Dibawahnya, bocah-bocah kecil berlarian mengikuti arah sang merpati. Anto, salah satu dari bocah-bocah itu. Bocah-bocah berlarian tertawa dan saling mengejek, berebut untuk mendapatkan merpati itu, kecuali Anto. Anto tidak sedang bermain ia sedang dalam sebuah bahaya. Keringatnya sudah men...
Selamat datang di tempat Adin dan pikirannya bertengkar, merebutkan pengakuan.