Langsung ke konten utama

Sandiwara telah usai

Pagi ini, ku awali dengan memandang wajahmu yang diam dalam bingkai. Disana tergambar tawa bahagia–aku dan kamu. Namun yang kulihat berbeda. Sangat berbeda.

Ku langkahkan kakiku mengganti pakaian dan segera pergi dari ruangan penuh cerita ini.

Hari ini, kamu mengajakku pergi. Ada yang penting, begitu pesan singkatmu. Firasat buruk mulai menjalar dalam otakku. Tidak. Semua akan baik-baik saja, begitu kata dusta mulutku yang sama sekali tak di-iya-kan oleh hati.

Mungkin hari itu telah tiba. Iya. Mengerti. Kita berdua mengerti. Cinta yang kita bangun hanya sebuah parodi. Cerita ini harus berakhir tragis agar semua yang melihat ikut menangis. Tetapi mengapa? Saat kisah ini akan berakhir, aku yang menangis.

Bukankah ini bagai dongeng Cinderella? Bukan. Disini, aku sengaja menjatuhkan sepatuku agar sang pangeran mengadakan sayembara dan aku akan memenangkannya. Terlalu indah. Akhir dongeng itu mungkin tak akan pernah berlaku untukku. Pangeran sepertimu tak akan peduli dengan sepatu gadis sepertiku, aku tahu itu.
Tapi hari ini tiba, hari dimana aku harus siap. Dan aku tak akan pernah siap.

Ku tata rapih rambut dan baju yang kukenakan, tak lupa hati dan jiwaku pun juga.

"Izinkan aku mencintai orang lain. Aku bosan berpura dan berbelas kasih" ucapmu tanpa ekspresi.

Lolos. Akhirnya kata yang selama ini tak ingin ku dengar telah menyeruak dari dirimu.

Nyeri. Hatiku bagai diremas.
Aku sangat paham, dari awal aku memang mencita tanpa balas. Bodohnya aku tetap bertahan meski sandiwara ini sudah berjalan sangat jauh, hingga aku terlalu berharap lebih dari dusta. Harusnya aku memang penonton dan bukan pemeran drama tanpa naskah yang mengalir begitu saja dengan akhir yang sudah kuketahui.

Tapi aku mengerti. Peran monolog ini membuatku lebih merasa kau lebih dari seorang patung.
Namun, kini sandiwara telah usai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata yang Tidak Berkata

setiap kata memiliki makna kecuali kita bising di kepalamu dan gemuruh detak jantungku menggebu tanpa malu tetapi tembok itu masih memenangkan segala perang tentang keakuan dan diam masih menjadi kalimat panjang menggantikan setiap pelukan-pelukan batu dalam jiwamu tetap satu akhirnya yang ramai hanya bisu berkata tanpa kata-kata

Katamu–palsu

Katamu, Terang itu bila kita berhasil melewati gelap Katamu, Mudah itu bila kita melompati cobaan bersama Katamu, Tawa itu hanya untuk mereka yang sering menangis Katamu, Untuk mencapai senja yang indah kita hanya perlu menunggu mentari tenggelam Sayang, Tempat ini terlalu gelap, Aku yang buta pun bisa merasakan hitam pekatnya Aku tak melihatmu di gelap ini Apa gelap ini termasuk bentuk cobaan? Jika iya, aku tak bisa melompat Aku lumpuh Jangankan melompat Bergerakpun aku tak mampu Kau bilang menangis? Menangis? Tak usah kau bicara tangis pada orang tunawicara Tak usah mengatakan tentang bualan indah Tentang tawa Menangis saja sulit Bagaimana ku bisa tertawa? Bodoh! Kau mengajarkanku tentang menunggu? Tahu apa kau tentang senja yang indah Tahu apa kau tentang arti menunggu Untuk tertawa Untuk membuat hidup lebih mudah Untuk mencapai terang Katamu, bila "kita" Tahu apa kau tentang kita? Kita–mungkin maksudmu adalah aku dah diriku Terimakasih, ...