Pagi ini, ku awali dengan memandang wajahmu yang diam dalam bingkai. Disana tergambar tawa bahagia–aku dan kamu. Namun yang kulihat berbeda. Sangat berbeda.
Ku langkahkan kakiku mengganti pakaian dan segera pergi dari ruangan penuh cerita ini.
Hari ini, kamu mengajakku pergi. Ada yang penting, begitu pesan singkatmu. Firasat buruk mulai menjalar dalam otakku. Tidak. Semua akan baik-baik saja, begitu kata dusta mulutku yang sama sekali tak di-iya-kan oleh hati.
Mungkin hari itu telah tiba. Iya. Mengerti. Kita berdua mengerti. Cinta yang kita bangun hanya sebuah parodi. Cerita ini harus berakhir tragis agar semua yang melihat ikut menangis. Tetapi mengapa? Saat kisah ini akan berakhir, aku yang menangis.
Bukankah ini bagai dongeng Cinderella? Bukan. Disini, aku sengaja menjatuhkan sepatuku agar sang pangeran mengadakan sayembara dan aku akan memenangkannya. Terlalu indah. Akhir dongeng itu mungkin tak akan pernah berlaku untukku. Pangeran sepertimu tak akan peduli dengan sepatu gadis sepertiku, aku tahu itu.
Tapi hari ini tiba, hari dimana aku harus siap. Dan aku tak akan pernah siap.
Ku tata rapih rambut dan baju yang kukenakan, tak lupa hati dan jiwaku pun juga.
"Izinkan aku mencintai orang lain. Aku bosan berpura dan berbelas kasih" ucapmu tanpa ekspresi.
Lolos. Akhirnya kata yang selama ini tak ingin ku dengar telah menyeruak dari dirimu.
Nyeri. Hatiku bagai diremas.
Aku sangat paham, dari awal aku memang mencita tanpa balas. Bodohnya aku tetap bertahan meski sandiwara ini sudah berjalan sangat jauh, hingga aku terlalu berharap lebih dari dusta. Harusnya aku memang penonton dan bukan pemeran drama tanpa naskah yang mengalir begitu saja dengan akhir yang sudah kuketahui.
Tapi aku mengerti. Peran monolog ini membuatku lebih merasa kau lebih dari seorang patung.
Namun, kini sandiwara telah usai.
Komentar
Posting Komentar