Langsung ke konten utama

Tak lagi sama

Mengapa setiap tawa indah harus kubayar dengan air mata?

Sayup-sayup aku dengan kata cinta pagi ini berbeda. Hendakku bertanya pada suara itu. Suara hati kecil dengan bisikkan kasih sayang itu, kini tak lagi sama.
Ada rasa yang mengganjal di palung hatiku. Tetapi sulit untuk kuungkapkan. Ku arungi ruas waktu tanpa memikirkan perbedaan. Kata orang, perbedaan akan lebih menguatkan cinta, bukan?
Namun, langit hari ini pun tak lagi sama. Tanah yang kupijak pun mengapa terasa hampa?. Oksigenpun kurasa mengurang.

Saat kau katakan kalimat "kita jadi teman saja" menjawab semua tanyaku.

Mengapa kurasa hampa?

Karena rasa dalam diri dan hati kita sudah tak lagi sama.
Karena oksigenku  sudah pergi meninggalkanku.
Karena langit yang mengiringi langkahku perlahan menghilang, menjauh.
Ia membiarkanku jalan sendiri tanpa keteduhannya lagi.

Kalimat itu sudah menyihir duniaku.
Kelam.
Malampun semakin pekat mengiringi kematian rasa dihatimu.
Kelamnya semakin membawaku pada lubang hitam yang menyesatkan jiwa.
Dengan enggan kulirik bulan yang ikut meredup bersama sinar dalam jiwaku yang telah kelabu.

Kosong.
Sisi-sisi hatiku perlahan menjadi kosong.
Celah kecil kini telah membesar. Membuat kupu-kupuku terbang bersama indah sayapnya.
Terbawa cinta yang baru saja kau eksekusi mati.

Kupu-kupu yang hinggap dibunga hatiku.
Kini tertutup menjadi kepompong kembali

-ditulis saat sosokmu perlahan menghilang dibalik gelap malam-

-Adin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata yang Tidak Berkata

setiap kata memiliki makna kecuali kita bising di kepalamu dan gemuruh detak jantungku menggebu tanpa malu tetapi tembok itu masih memenangkan segala perang tentang keakuan dan diam masih menjadi kalimat panjang menggantikan setiap pelukan-pelukan batu dalam jiwamu tetap satu akhirnya yang ramai hanya bisu berkata tanpa kata-kata

Katamu–palsu

Katamu, Terang itu bila kita berhasil melewati gelap Katamu, Mudah itu bila kita melompati cobaan bersama Katamu, Tawa itu hanya untuk mereka yang sering menangis Katamu, Untuk mencapai senja yang indah kita hanya perlu menunggu mentari tenggelam Sayang, Tempat ini terlalu gelap, Aku yang buta pun bisa merasakan hitam pekatnya Aku tak melihatmu di gelap ini Apa gelap ini termasuk bentuk cobaan? Jika iya, aku tak bisa melompat Aku lumpuh Jangankan melompat Bergerakpun aku tak mampu Kau bilang menangis? Menangis? Tak usah kau bicara tangis pada orang tunawicara Tak usah mengatakan tentang bualan indah Tentang tawa Menangis saja sulit Bagaimana ku bisa tertawa? Bodoh! Kau mengajarkanku tentang menunggu? Tahu apa kau tentang senja yang indah Tahu apa kau tentang arti menunggu Untuk tertawa Untuk membuat hidup lebih mudah Untuk mencapai terang Katamu, bila "kita" Tahu apa kau tentang kita? Kita–mungkin maksudmu adalah aku dah diriku Terimakasih, ...