Mengapa setiap tawa indah harus kubayar dengan air mata?
Sayup-sayup aku dengan kata cinta pagi ini berbeda. Hendakku bertanya pada suara itu. Suara hati kecil dengan bisikkan kasih sayang itu, kini tak lagi sama.
Ada rasa yang mengganjal di palung hatiku. Tetapi sulit untuk kuungkapkan. Ku arungi ruas waktu tanpa memikirkan perbedaan. Kata orang, perbedaan akan lebih menguatkan cinta, bukan?
Namun, langit hari ini pun tak lagi sama. Tanah yang kupijak pun mengapa terasa hampa?. Oksigenpun kurasa mengurang.
Saat kau katakan kalimat "kita jadi teman saja" menjawab semua tanyaku.
Mengapa kurasa hampa?
Karena rasa dalam diri dan hati kita sudah tak lagi sama.
Karena oksigenku sudah pergi meninggalkanku.
Karena langit yang mengiringi langkahku perlahan menghilang, menjauh.
Ia membiarkanku jalan sendiri tanpa keteduhannya lagi.
Kalimat itu sudah menyihir duniaku.
Kelam.
Malampun semakin pekat mengiringi kematian rasa dihatimu.
Kelamnya semakin membawaku pada lubang hitam yang menyesatkan jiwa.
Dengan enggan kulirik bulan yang ikut meredup bersama sinar dalam jiwaku yang telah kelabu.
Kosong.
Sisi-sisi hatiku perlahan menjadi kosong.
Celah kecil kini telah membesar. Membuat kupu-kupuku terbang bersama indah sayapnya.
Terbawa cinta yang baru saja kau eksekusi mati.
Kupu-kupu yang hinggap dibunga hatiku.
Kini tertutup menjadi kepompong kembali
-ditulis saat sosokmu perlahan menghilang dibalik gelap malam-
-Adin.
Komentar
Posting Komentar