Gelap. Aku terbangun dari gelapnya mimpi buruk itu lagi. Dengan susah payah ku atur kembali irama nafas yang sempat menderu hebat.
Tes. Tes. Tes. Keringat yang semula hanya membasahi dahi kini telah menetes menyisakan warna gelap pada kaos merahku. Ku bangkitkan tubuhku dari ranjang, dan berjalan keluar kamar. Ku langkahkan kakiku menuju kulkas kecil dipojok ruangan, kubuka dan meneguk sebotol air dingin. Kulirik jam dinding dan mendesah. Aku baru tertidur beberapa menit dan mataku akan susah untuk tertutup. Dengan susah payah kupaksakan pejamkan mata dan mencoba untuk terlelap kembali.
"Mah, bangun mah! Jangan tinggalin aku!" air mataku tumpah sejadi-jadinya.
"Mamah disini sayang, kamu jangan lari lagi ya"
Bayangan itu menghilang dibalik rombongan awan yang perlahan menjauh terbawa angin.
Ku kucek mataku yang sedikit lembap. Mimpi buruk itu lagi. Sudah tiga kali aku bermimpi mimpi yang sama. Kulangkahkan kakiku dengan malas ke kamar mandi. Hari ini aku ada kuliah pagi. Setelah ku kunci rumah kosku, aku siap berangkat.
"Mas,aku bermimpi tentang Mamah lagi. Kenapa dimimpiku Mamah selalu menghilang dan hal itu sangat mustahil", ceritaku pada Mas Danu yang tengah menyetir.
Dia hanya tersenyum, senyum yang sulit untukku artikan. Setelah itu, hanya keheningan yang mengiri perjalanan kami menuju kampus. Sesampainya ditempat parkir, Mas Danu mematikan mesin mobilnya dan membukakan pintu untukku.
"Setelah pulang,ikutlah bersama aku" ajak Mas Danu.
"Memangnya mau kemana?" tanyaku bingung, ini pertama kalinya Masku ini mengajak pergi tanpa memberitahukan tujuannya padaku.
"Nanti juga kamu akan tahu" jawabnya tanpa menoleh padaku.
"Mas, apa Mamah meneleponmu? Aku telepon kok ngga pernah diangkat ya?" tanyaku pada Mas Danu untuk mencairkan suasana.
Memang, sudah beberapa bulan ini teleponku tak pernah diangkat oleh Mamah. Padahal aku hanya ingin mendengar suaranya demi melepas kerinduan. Pikiranku melayang pada keluarga. Keluarga yang sudah lama tak saling bertemu, terkecuali Mas Danu.
Tanpa kusadari, Mas Danu telah pergi dan membiarkanku sendirian di tempat parkir sendirian.
Mata kuliah pagi ini kulalui tanpamemperhatikan sedikitpun materi dan lebih banyak menatapkosong dosen yang tak tahu sedang berbiacara apa.
Jam kuliahku telah selesai. Segera kubergegas menuju tempat parkir, ternyata disana Mas Danu telah menungguku. Ia memberikan isyarat melalu bola matanya untukku masuk. Setelah mengenakan sabuk pengaman Mas Danu menyalakan mesin mobilnya dan melaju. Perjalanan kamipun dimulai dalam keheningan. Tak ada satupun dari kami yang berniat untuk angkat bicara. Mungkin, terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah lama hanya diam, akhirnya Mas Danu menghentikan mobilnya. Tepat didepan sebuah bukit kami sekarang. Tempat yang sangat aku rindukan, dimana keluarga kami saling berbagi kasih sayang diatas tikar dan gelak tawa. Mas Danu turun dari mobil dan aku mengekor berjalan dibelakangnya. Terpaan angin membuat daun-daun dari beberapa pohon bergururan. Baru aku ingin memuji pesona bukit ini, langkah Mas Danu justru terhenti.
Disinilah kami, didepan pohon besar. Kepala Mas Danu tertunduk kebwah pohon besar tersebut. akupun mengikutin arah pandangnya. Nisan, batu nisan yang sedang dilihatnya. Perlahan aku baca nama yang tertera diatas batu nisan tersebut. Kepalaku terasa berat, pandanganku pun mulai kabur. Masku membalikkan badan dan langsung kupeluk. Pecah sudah tangislu dalam dekapannya. Air mataku membuat bekas kegelapan dikemaja biru lautnya, Angin sore ini telah membawa sebagian jiwaku pergi jauh, entah kemana. Aku merasa kecil dan kosong. Hatiku nyeri, perih bagai luka sayat yang tak sengaja tersiram air dingin. Mas Danu melepaskan pelukannya kemudian Ia berjongkok memanjatkan do'a didepan nisan tersebut. Aku jatuh, dengkulku bergetar hebat.
"Dek, jangan pernah lari lagi" ucap Mas Danu lirih, bahkan nyaris aku tak mendengarnya.
Aku masih terdiam dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Sudah tiga bulan, seharusnya kamu sudah terbiasa. Berakting seolah Ibu masih disisi kita justru membuat luka semakin terasa" Jelasnya yang hanya dijawab oleh isakkan olehku.
Dia benar. Sesering apapun aku membuat delusi-delusi akan Mamah, ia tak akan kembali.
aku sudah lelah berlari Mah, jawabku dalam mimpi keempat.
-Adin
Ditulis 14 okt 2013
Komentar
Posting Komentar