Langsung ke konten utama

Surat Tentang Rindu

Selamat pagi, jika di sana pagi.
Selamat siang, jika di sana siang.
Selamat sore, jika di sana matahari mulai merunduk ke arah barat.
Selamat malam, jika langit di kepalamu penuh gelap–gulita.

Maaf, awal surat ini tak begitu baik. Aku bukan seorang penulis yang pandai merajut kata melalui pena. Selain itu, karena aku tak pernah tahu kapan kau membaca surat ini.
Oh iya, aku sampai lupa.

Apa kabar, Bim? Lama juga ya tidak surat-menyurat seperti ini.

Aku mengirim surat ini hanya ingin meminta pendapatmu, tentang hal paling basi dari romansa remaja.
Apalagi, selain rindu.

Kemarin, temanku mengatakan bahwa sebaik-baiknya rindu adalah yang dihadiahi sebuah temu. Apa kamu setuju dengan itu? Ia menceritakan padaku kisah cinta "Gilang dan Luna" yang romantis juga membuatku ingin bilang najis!, aku sampai mual mendengarnya. Apa kau tidak keberatan jika aku bercerita disini? Aku hanya ingin tahu, apakah kau juga mual atau tidak. Hahaha, aku tahu kau paling benci cerita cinta remaja yang menurutmu konyol itu.

Cerita ini berawal dari persahabatan gadis kecil berkepang dua bernama Luna dan anak lelaki jangkung bergigi kelinci, Gilang. Gilang dan Luna memang memiliki banyak teman bermain, tapi keakraban keduanya sangat berbeda dengan teman yang lain, terlebih karena rumah mereka yang berjarak kurang dari dua puluh meter. Baik Gilang maupun Luna selalu menghabiskan waktu bersama, terlalu sering hingga mereka lupa akan detik detak jam serta matahari yang selalu berjalan terbit dan tenggelam.

Ah, sebaiknya aku tak menceritakan bagian romantis yang telah dikemas secara hiperbolis oleh temanku, atau kau akan memuntahkan kembali sarapanmu pagi tadi.

Singkatnya, menjelang kelulusan SMA Gilang dan Luna mulai memikirkan kehidupan mereka kedepannya–masing-masing. Kerengganggan hubungan mereka mulai terjadi, entah siapa yang memulai, mereka pun tak tahu. Gilang memutuskan mengambil jurusan teknik industri di salah satu perguruan tinggi negeri di kota kembang, Bandung. Sedangkan Luna memilih mengikuti arahan serta keinginan orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan kedokteran di Singapura.

Salam perpisahan yang terbilang biasa, hanya diakhiri pelukan 5detik sebelum akhirnya Luna menarik koper dan Gilang pergi terburu-buru karena harus mengurusi berkas perkuliahannya.

Hubungan mereka masih akrab, walaupun dengan jarak. Meski tak sehangat saat mereka tak terbelenggu ruang serta waktu.
Luna dan Gilang semakin kehilangan satu sama lain ketika menginjak semester kedua.

Liburan telah tiba.

Mereka memutuskan untuk bertemu di rumah Luna. Saat pertemuan pertama setelah satu tahun tak berjumpa, Luna hanya di pertemukan oleh kenyataan pahit, Gilang tak juga datang. Oh iya, aku belum menceritakan kalau rumah Gilang di kontrakan sementara karena orangtuanya dinas di luar kota untuk waktu yang cukup lama. Alasan Gilang berhalangan datang memang masuk akal; teman sekampusnya mengalami kecelakaan dan ia harus menemaninya di rumah sakit, temannya anak sebatang kara. Sayang, hati yang penuh kecewa tak pernah menggunakan logika. Luna terlanjur kecewa, pertemuan yang sudah di rencanakan begitu matang, gagal pada hari H.

Mungkin kau berharap akan ada adegan-adegan romantis Gilang dan Luna setelah ini. Sayangnya cerita ini harus berakhir sampai disini.

Gilang tak pernah menemui Luna. Meski rindu telah Luna dekap dengan hangat dalam harap. Gilang tak jua datang.

Tiga tahun setelahnya, Luna mendapat sepucuk amplop merah muda di kotak suratnya. Surat yang harum bunga mawar itu dikirimkan Gilang dua bulan yang lalu. Berapa liter parfum yang ia gunakan untuk merendam surat itu jangan dipikirkan ya. Entah kenapa Luna baru menyadari setelah melihat tanggal yang tertera di pojok kanan atas kertas putih bergaris merah itu.

Apa kau berpikir bahwa surat itu berisikan kata-kata manis tentang kerinduan?
Jika iya, pemikiranmu sama seperti saat aku diceritakan kisah ini.
Jawabannya, salah.

Surat merah muda itu adalah surat undangan. Entah. Apa bisa surat itu disebut surat undangan bila dituliskan oleh Gilang dengan tangannya sendiri?
Mungkin kita bisa sebut surat itu adalah surat permohonan maaf juga permohonan izin serta permohonan kehadiran Luna dalam pernikahan Gilang. Gilang menikah. Iya. Setelah penantian Luna setiap libur semester. Setelah puluhan kali ia menangisi apa yang orang sebut dengan rindu.

Ya, seperti itulah kisahnya. Apa pendapatmu, Bim?

Rindu memang begitu menyakitkan bila tak berujung dengan temu. Memangnya ada rindu yang tak jemu melewati angan-angan semu tentang pertemuan? Aku rasa tidak.

Mungkin rindu adalah pedal sepeda. Yang selalu mengayuh, bersebelahan, searah, tapi tak pernah berhenti di tempat yang sama. Kecuali, kau rela mengorbankan merusak pedalnya. Iya, pengorbanan memang selalu menyakitkan, berakhir bahagia atau tidak, kita tak pernah tahu tanpa mencobanya.

Jika kau ingin mendengarkan pendapatku tentang rindu lebih jauh, tolong hadiahi aku sebuah temu.

Dimanapun kamu berada, entah di surga atau di tempat yang menurutmu indah, tetap jaga rindu ini. Rindu yang selalu menyala api meski hujan sering membasahinya.

Bima, aku tak pernah ingin menyudahi surat ini.

Sampai bertemu di tempat pertemuan paling indah yang sebaiknya kau persiapkan dari sekarang ya!

Yang merindukanmu dengan sangat dan tanpa lelah,

Nila

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata yang Tidak Berkata

setiap kata memiliki makna kecuali kita bising di kepalamu dan gemuruh detak jantungku menggebu tanpa malu tetapi tembok itu masih memenangkan segala perang tentang keakuan dan diam masih menjadi kalimat panjang menggantikan setiap pelukan-pelukan batu dalam jiwamu tetap satu akhirnya yang ramai hanya bisu berkata tanpa kata-kata

Katamu–palsu

Katamu, Terang itu bila kita berhasil melewati gelap Katamu, Mudah itu bila kita melompati cobaan bersama Katamu, Tawa itu hanya untuk mereka yang sering menangis Katamu, Untuk mencapai senja yang indah kita hanya perlu menunggu mentari tenggelam Sayang, Tempat ini terlalu gelap, Aku yang buta pun bisa merasakan hitam pekatnya Aku tak melihatmu di gelap ini Apa gelap ini termasuk bentuk cobaan? Jika iya, aku tak bisa melompat Aku lumpuh Jangankan melompat Bergerakpun aku tak mampu Kau bilang menangis? Menangis? Tak usah kau bicara tangis pada orang tunawicara Tak usah mengatakan tentang bualan indah Tentang tawa Menangis saja sulit Bagaimana ku bisa tertawa? Bodoh! Kau mengajarkanku tentang menunggu? Tahu apa kau tentang senja yang indah Tahu apa kau tentang arti menunggu Untuk tertawa Untuk membuat hidup lebih mudah Untuk mencapai terang Katamu, bila "kita" Tahu apa kau tentang kita? Kita–mungkin maksudmu adalah aku dah diriku Terimakasih, ...