Langsung ke konten utama

Bayang kelam

Kala mendung menghampiri
Segala gelisah menyelimuti hati
Jantung berdegup lebih kencang
Kemana kaki akan membawa diri
Aku tak tahu
Resah ku tengok cermin di hadapku
Senyum tergores di antara kedua pipi
Mengapa yang lain percaya akan ini?
Tanpa kata ku tulis cerita
Kala lisan tak dapat mengucap
Ingin ku teriakan
Yang kalian lihat hanya bayang kelamku
Aku yang sebenarnya ada disini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata yang Tidak Berkata

setiap kata memiliki makna kecuali kita bising di kepalamu dan gemuruh detak jantungku menggebu tanpa malu tetapi tembok itu masih memenangkan segala perang tentang keakuan dan diam masih menjadi kalimat panjang menggantikan setiap pelukan-pelukan batu dalam jiwamu tetap satu akhirnya yang ramai hanya bisu berkata tanpa kata-kata

Katamu–palsu

Katamu, Terang itu bila kita berhasil melewati gelap Katamu, Mudah itu bila kita melompati cobaan bersama Katamu, Tawa itu hanya untuk mereka yang sering menangis Katamu, Untuk mencapai senja yang indah kita hanya perlu menunggu mentari tenggelam Sayang, Tempat ini terlalu gelap, Aku yang buta pun bisa merasakan hitam pekatnya Aku tak melihatmu di gelap ini Apa gelap ini termasuk bentuk cobaan? Jika iya, aku tak bisa melompat Aku lumpuh Jangankan melompat Bergerakpun aku tak mampu Kau bilang menangis? Menangis? Tak usah kau bicara tangis pada orang tunawicara Tak usah mengatakan tentang bualan indah Tentang tawa Menangis saja sulit Bagaimana ku bisa tertawa? Bodoh! Kau mengajarkanku tentang menunggu? Tahu apa kau tentang senja yang indah Tahu apa kau tentang arti menunggu Untuk tertawa Untuk membuat hidup lebih mudah Untuk mencapai terang Katamu, bila "kita" Tahu apa kau tentang kita? Kita–mungkin maksudmu adalah aku dah diriku Terimakasih, ...