Kala mendung menghampiri
Segala gelisah menyelimuti hati
Jantung berdegup lebih kencang
Kemana kaki akan membawa diri
Aku tak tahu
Resah ku tengok cermin di hadapku
Senyum tergores di antara kedua pipi
Mengapa yang lain percaya akan ini?
Tanpa kata ku tulis cerita
Kala lisan tak dapat mengucap
Ingin ku teriakan
Yang kalian lihat hanya bayang kelamku
Aku yang sebenarnya ada disini
setiap kata memiliki makna kecuali kita bising di kepalamu dan gemuruh detak jantungku menggebu tanpa malu tetapi tembok itu masih memenangkan segala perang tentang keakuan dan diam masih menjadi kalimat panjang menggantikan setiap pelukan-pelukan batu dalam jiwamu tetap satu akhirnya yang ramai hanya bisu berkata tanpa kata-kata
Komentar
Posting Komentar